Jumat, 23 Januari 2015

Facial Battleground and Underestimating Yoga (Being Woman isn't Easy)

percayalah, guys! tidak mudah menjadi perempuan
Yeah. Gue ngaku bahwa kadang gue suka menyepelekan hal-hal yang dilakukan oleh kaum hawa a.k.a perempuan. Walaupun gue sering bantuin si mamah masak, ngikut bikin kue bareng si kakak, tetep aja ternyata ego superior milik laki-laki ini susah banget hilangnya. Haha..

Dimulai dari ketidaksengajaan waktu ngobrol bareng si kakak soal muka. Gue protes kenapa di muka gue banyak jerawat padahal umur gue lebih muda dari si kakak sedangkan muka dia mirip sama pantat bayi (LOL). Mulus amat. Padahal sama-sama punya aktivitas diluar. Walhasil si kakak melontarkan sebuah solusi jitu yang belakangan agak gue sesali. Singkat cerita, si kakak menyarankan gue untuk rajin facial. Iya, facial itu nama anak laki-lakinya Pak RT itu loh (ITU MAH FAISAL! BUKAN FACIAL!). Maksudnya perawatan kulit wajah dimana muka lu bakal dicuci, dibersihin semua kotorannya (termasuk sisa jerawat dan jerawat yang masih aktif (bahasa gue), sampai komedo) terus dikasih krim macem-macem, vitamin, plus maskeran deh. Sambil dibersihin biasanya wajah suka sambil dipijet-pijet gitu biar rileks dan bikin wajah seger lagi. Apalagi buat kaum perempuan yang suka ngambek bin manyun, cocok banget nih biar otot mukanya rileks setelah ditekuk 7 hari 7 malem gara-gara gak dibeliin kerak telor sama si yayang. LOL

Jadi hari itu hari pertama perkenalan gue dengan facial pertama kali yang beneran di salon, bukan cuci muka sendiri dirumah. Gue sih dengan gegap gempita melangkahkan kaki ke salon dengan bayangan dalam pikiran gue bakalan rileks abis nih gue. Muka dipijet sambil dibersihin! Tapi ternyata, dunia itu memang kejam kawan. Facial itu tidak seindah yang terdengar dan terlihat. PERCAYALAH!

Kalau gue bisa mendefinisikan proses facial dalam satu kata, itu adalah 'Battleground'. Mungkin terdengar aneh tapi PERCAYALAH kawan sesama pria, satu satunya isi pikiran gue ketika facial berlangsung hanyalah, "Tuhaan, inikah yang dirasakan para pahlawan pejuang dulu saat mereka ditawan dan disiksa oleh PKI". LOL. But seriously, facial is hurt, man! Imajinasi gue akan saat saat relaksasi dimana wajah gue akan dipijat dan dibersihkan dengan krim sejuk plus menyegarkan buyar sudah ketika di mbak mbak tukang facialnya mulai menggunakan pisau pengiris wajahnya (yang sebenernya adalah alat untuk membersihkan komedo bebentuk stik dengan kawat melingkar sebagai ujungnya menurut kakak gue) di atas kulit wajah gue. Gue bilang seperti itu karena yang gue rasain persis ketika ada seseorang yang mengiris-iris wajah lu dengan sebilah pisau tajam. Satu per satu air mata pria gue menetes secara sendirinya dan SUMPAH, selama kurang lebih 30 menit proses facial berlangsung gue berusaha kerasa menahan raut muka gue sekalem mungkin, senormal mungkin demi harga diri gue sebagai lelaki yang konon katanya kuat menahan segala macam sakit dan cobaan hidup (kecuali sakit hati yee bro? haha). Alhasil setelah 30 menit berlalu dan wajah gue udah mulai dimasker, baru lah gue bisa merasa sedikit nyaman dan nyaris tertidur! Setelah proses facial selesai dan kita berdua melangkah pulang, gue menyapa udara terbuka di luar salon dengan wajah yang super duper segar, dan berasa 10 X lebih ganteng dari sebelumnya. I left the Salon with this whole feeling as a man, this weirdly proud feeling and a big sense of achievement. Perasaan yang lu dapet ketika berhasil menyelesaikan sebuah misi maha sulit dari negara. Perasaan yang membuat gue lebih mengerti peran gue sebagai pria, tentang rasa sakit. Because trust me guys, facial is even a lot more painful than our circumcision process (since we're given anesthesia), at least for me. LOL. So, you will not know what is the real pain is before you try it by yourself! LOL. JK.
 
Harus tahan gak bikin muka kayak gini selama facial!
Another one thing that surprisingly underestimated by me also is yoga. Sumpah! Gue gak sadar ternyata selama ini gue menyepelekan olahraga yang satu ini. Gue pikir kok bisa sih Cuma bikin pose-pose akrobatik gitu terus bisa bikin kurus dan bada atletis? Gue salah satu yang lumayan skeptis awalnya. Dan (sedihnya) gue sempet berpikir lelaki yang ikutan yoga itu bisa diconsider as not a manly man gitu. Entah kenapa gue mengkategorikan olahraga ini sama perempuan. Ketika kakak gue sering cerita tentang kelas yoganya dia, bagaimana dia sekarang udah berhasil menurunkan berat badannya beberapa kilo dari yoga, gue berpikir, "for serious?". Agak gak percaya. Apalagi kemudian dia cerita ada beberapa lelaki yang ada di kelas yoganya dia, gue langsung nyeletuk, "pasti yang agak ke cewek gitu ya sifatnya tuh cowok?" (sampai saat ini sumpah gue merasa gagal banget jadi manusia karena gue secara tidak sadar ikut mengeneralisir stereotipe yang ada). Kakak gue langsung membantah pertanyaan gue dan mengatakan cowok yang pada ikut malah udah berumur semua dan dia yakin rata-rata pada straight kok. Terus dia lanjutin bahkan instruktur yoganya pun laki-laki. Karena kakak gue merasa gue masih kepikiran soal dunia per-yoga-an ini, akhirnya dia ajak gue untuk ikutan yoga biar gue tau. Bener juga sih, gimana gue mau menilai sesuatu kalau gue aja belum pernah ikut dan merasakan sendiri. Esoknya dengan tekad '45, gue merasa siap menantang 'yoga' dan yakin bahwa olahraga ginian belum ada apa-apanya dibanding benchpress, or weight lifting di gym langganan. Tapi ternyata di akhir latihan gue harus mengibarkan bendera putih tanda kekalahan. Sekali lagi gue salah. Most of you might be looking at some yoga pose and think, "this is easy as freak!", but save that judgment until you try it FOR REAL! Pantes aja yang udah rajin yoga badannya pada bagus karena untuk bisa mahir dalam yoga lu harus punya otot-otot yang kuat. Otot bagian atas (tangan, bahu, punggung), bagian tengah (perut, pinggang), dan bagian bawah (paha, betis, kaki) harus bener bener kuat. Bayangin aja misalnya lu lakuin sikap handstand selama 1 menit : STILL! Tanpa ada gerakan menyeimbangkan kemudian dilanjutkan dengan menurunkan kedua paha dan menekuk lutut dan diam lagi diposisi itu. Bayangin aja tanpa otot perut yang kuat sebentar juga jatuh deh pasti. Belum lagi ketika gue bicara soal kelenturan. Ckckc.. Intinya gue salut lah sama para penggiat yoga dimanapun mau laki-laki atau perempuan, you got my respect, guys!! dan kalau ada laki-laki yang masih underestimate yoga dan facial, gue tantang lu untuk coba sendiri dan lihat pikiran lu berubah gak setelah lu coba sendiri??

Nah, intinya adalah, UNDERESTIMATION is TOXIC, guys! Kadang kita gak sadar melakukannya. Jangan sampai ketidakpekaan kita sebagai laki-laki malah jadi menurunkan nilai kita sebagai manusia. Jangan sampai kita punya pemikiran dan judgment yang subjektif tapi mengaku objektif. Jangan sampai kita punya pandangan yang sempit terhadap semua hal. Cerita gue diatas adalah salah satu contoh dimana stereotipe dan personal judgment adalah hal yang berbahaya dan kadang kita sepelekan. Try to open our world to be able to pull of more objective judgment and no more stereotipe. Gue sempat berada di satu titik dimana gue merasa perempuan itu cenderung menyerah pada perasaan, lemah, dan selalu overthinking things. Setelah gue alami dua kejadian diatas, gue malu sama diri gue sendiri karena gue akhirnya tau being woman is not easy. Jadi makhluk yang super duper kuat tapi juga disatu sisi lembut itu susah banget menurut gue. Bayangin aja lu kemana-mana jalan pake high heels, harus tau cara make up, tau dan inget cara memasak makanan (yang jumlahnya ratusan resep), ditambah harus manage keluarga, kerjaan, tubuh dan pikiran sekaligus itu bukan perkara gampang. Jadi pesen gue buat para pria nih yang punya pacar dan suka protes kenapa mereka selalu lama di salon dan lama memilih pakaian di mall atau buat para suami yang sering protes kenapa hari ini kita harus makan malem diluar lagi : that's all simply (might be) just for you. Si pacar pastinya mau selalu terlihat cantik di depan pacarnya kan? Terus si istri mungkin gak mau si suaminya makan yang kurang enak setelah dia lumayan capek hari itu mengurus rumah seharian dan takut kalau dia masak rasanya malah aneh. Bayangin mereka bahkan mau sampe berjam-jam di salon, ikut kursus masak mingguan, ikut kelas senam/yoga untuk mempertahankan figur mereka sebagai someone we can count on, someone strong, yet so kind and full of compassion. Being a woman is not easy and never be easy, my friend! Try to understand them a little bit more now.

Have a good day everyone, cheers! :)