Rabu, 18 Januari 2012

Our Bad Songs is Actually a Good Thing (Really?)

well, i start this post with an funny phrase (i think). para muda Indonesia yang kebetulan nyasar ke Blog gue dan ga sengaja ngebaca posting ini, i would say keep on reading till last word, guys. i really want to know your opinion about this. so, okay let's start this thing,

sebenarnya pikiran gue ini muncul udah lama banget sekitar 4 tahunan yang lalu ketika gue amsih duduk di bangku SMA. gue sangat (sangat) sanksi sama lagu-lagu produksi negeri sendiri. well, gue tahu banyak lagu karya musisi kita yang keren banget, but unfortunately yang ga bagus justru lebih banyak. kenapa? karena gue berpikir kenapa sih banyak banget musisi yang membuat musik cuma untuk numpang tenar, cuma bikin musik yang umum yang laku keras kalau dijadiin RBT, dan juga lagu-lagu yang lirik lagunya sumpah enggak banget buat didenger, lagu-lagu yang cuma nurutin kemauan pasar. jadilah gue masuk ke masa-masa dimana gue sangat sangat skeptis sama lagu indonesia. gue buang semua lagu indonesia gue dari playlist dan gue ga mau dan ga peduli sama lagu-lagu indonesia. berpikir gue jahat?? tunggu dulu...

namun belakangan ini gue coba untuk berpikir kembali. sejauh apa sih gue benci sama lagu bahasa gue sendiri. gue benci lagunya? aransemennya? artisnya? atau semuanya? dari situ gue mulai dapet sedikit demi sedikit "pencerahan". gue yakin lo semua tau sama Lady Gaga dan bagaimana lagu Just Dancenya bener-bener asik buat didenger, seorang Kesha yang menghentak dunia dengan Tik Toknya. lo semua pasti tau sama David Guetta, seorang DJ yang lagu-lagunya selalu hits dan pasti cocok buat nemenin dugem juga masih banyak lagi segudang musisi-musisi barat yang lagu-lagu keren abis dan yang pasti worth it untuk dibela-belain beli CDnya ato donlod walaupun puluhan megabyte. tiba-tiba gue tersadar. kalian sadar ga, setiap lagu-lagu dance atau hip-hop beat dari mereka selalu menyinggung tentang party, dance, alcohol, party, bahkan sex yang memang notabene itu semua budaya mereka. so, sangatlah wajar bukan jika mereka sangat bagus dalam membuat musik-musik macam itu? it's all because they live it! they face it, dan they have it. itu hidup mereka. glamorous all the time.

So, kesimpulannya adalah... kita, Indonesia harus sehancur apa dulu budayanya untuk bisa membuat musik sebagus itu. apakah dengan memasyarakatkan klub-klub malam? menyebarkan selebaran yang berisi alcohol is okay? atau dengan bikin paham baru bahwa ganti-ganti pasangan dan free sex itu sih biasa?? the point is, kalau kita ga bisa membuat musik dance sebagus itu karena hal yang udah gue ceritain diatas, gue rela kok. gue lebih cinta sama bangsa gue sendiri. gue ga mau bangsa gue hancur hanya karena budaya yang secara diam-diam dibawa oleh lagu-lagu dan musik dari barat. gue masih mau liat orang-orang bangsa kita malu kalau ketahuan ke klub malam. gue masih mau liat orang-orang bangsa gue ngerti bahayanya mengonsumsi alkohol dan menurutinya (karena susu masih jadi minuman favorit! haha), dan gue masih mau liat orang-orang bangsa gue takut buat ngelakuin free sex. kita ini negara timur, bro. we have to remember that! so, in the end don't loose our identity and keep supporting our musicians no matter what!!! GO INDOENSIA! :)

5 komentar:

  1. Good point! Kebetulan kita punya preferensi yang sama soal musik favorit waktu SMA. hahaha
    And you know it's all about what's being hits on MTV. Jumlah lagu Indonesia yang kita favoritkan waktu itu juga bisa diitung pake jari.
    Your argument about how America's musicians make great music based on party, drugs, or sex because "they live with it", really makes me realize something. Hal apa sih yang kita "punya" dalam budaya kita sendiri dan bisa menjadi inspirasi dalam membuat musik yang bagus? Well, at least what all I can think about for now adalah "emosional".
    Ingat musik-musik tahun 80an dan 90an semacam lagu super emosional Betharia Sonata, Nia Daniaty, atau Nicky Astria? Mereka dan orang-orang di belakangnya bisa bikin musik yang amazing karena memang bangsa kita punya basic "high emotional context". Apa-apa dimasukin ke hati. Any single word or act bisa berarti banyak dalam konteks interaksi sosial. Ini gak banyak terjadi pada bangsa-bangsa lain, termasuk barat (habis belajar psikologi sosial. heheheh). That's why we're doing great on expressing emotional circumstances. Belakangan aku suka dengerin lagu-lagu galaunya Krisdayanti, and her songs tear me apart harder than Adele's, btw hahaha
    Sebenarnya masih banyak yang bisa dieksplor tentang apa-yang-kita-punya untuk menciptakan karya-karya musik yang abadi dan bisa selalu dikenang, bukan cuma sekedar hits sesaat lalu menghilang...

    BalasHapus
  2. The emotional thing is never been better in everywhere else except here, di Indonesia seperti kata kamu, helmi. Hahaha.. kalau diinget-inget kebelakang, kadang kalau lagi sedih gue sering nyanyiin lagu sendunya audy dan i must admit, lagu lagu kala itu punya power yang lebih untuk sekedar expressing our feeling and condition, karena memang lagunya based on that. apalagi zamannya Nike Ardila, beuhh lagu mama aku ingin pulangnya suka keingetan di kepala kalau lagi jauh. Indonesia memang dari sananya sih katanya orangnya ramah dan perhatian sama sekitar dan bukan individualis. So, if this is our strength in making music, harusnya ide ini lebih digali lagi. Hope it's soon. :D

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. enggak apaan nih ris? *curious

      Hapus
    2. Faris ni ngeselin loh kalo komen. setengah-setengah udah gitu konteksnya ga jelas nunjuk ke apa atau siapa. mending ga usah komen deh ris hahaha

      Hapus