Selasa, 10 Januari 2012

The Story : Hanya Ingin Bilang Cinta (Part 1)

Pagi yang sama. Hari yang sama. Itu berarti menjadi aktifitas yang sama bagi Alisa. Satu hal yang pasti dipikirkannya, dia masih terikan hubungan dengan Revan, pacarnya yang seorang pemimpin mafia terkenal di Jakarta. Sebenarnya Revan sangat mencintai Alisa. Tetapi bagaimaa pun juga Alisa tidak bisa menyukai Revan lebih dari seorang teman biasa. Kadang ia berangan-angan kalau saja ayahnya dan ayah Revan bukan teman dekat sehingga ia harus jalan bersama Revan untuk menyenangkan hati ayahnya. Harusnya aku bisa saja memutuskan hubungan ini, toh ayah juga sudah meninggal hampir setahun yang lalu. Tapi Revan terlalu posesif untuk menerima hal itu.

“Hei! Bengong aja lu! Bentar lagi dosen masuk tuh. Kog lu masih diem disini aja sih?” Tanya Renata.

“Ih ngapain sih kamu. Orang lagi mikir juga, diganggu aja!” Alisa protes.

“Ada apa sih? Mikirin Revan lagi? Udahlah cowok macam dia ga usah dipikirin mulu!!”

“Yeey.. siapa juga yang mikirin dia!” Aku bohong. “Udah ah! Ayo masuk kelas!”

Tapi seenggaknya masih ada Renata, sahabatku, yang bisa membuatku senang.

***

Pelajaran hari ini kulewati dengan tanpa konsentrasi. Aku terlalu suntuk untuk belajar hari ini. Tidak lain karena hari ini Revan akan mengajakku pergi. Huh! Dengan gontai kulangkahkan kedua kakiku keluar kelas ketika bel berbunyi. Benar saja, Revan telah menungguku di depan kampus.

“Siang cantik. Gimana? Udah siap jalan-jalan hari ini?” Tanya Revan.

“Terserah apa maumu deh!” Jawabku singkat.

Ferarri merah yang kunaiki pun segera meluncur ke salah satu pusat perbelanjaan terkenal di bilangan pondok indah. Sepanjang jalan Revan terus saja mengajakku mengobrol. Tapi aku sudah terlanjur badmood dengan hanya mendengar suaranya saja. Jadi aku hanya menanggapinya sesekali dengan anggukan kepala atau bahkan diam sama sekali.

“Kamu kenapa sih kog diam aja sayang?” Tanya Revan penasaran.

“Eh, nggak ada apa-apa kog. Kamu konsentrasi aja nyetirnya ya.” Jawabku.

Seperti biasanya, sesampainya di sana Revan langsung menarikku ke butik-butik mahal, makan di restoran terkenal, atau nonton film. Dia akan membelikanku barang-barang yang bahkan aku tidak pernah memintanya dan kalau aku menolak dia pasti marah dengan mengatakan aku cewek yang tidak tahu berterimakasih. Yah, jadilah kamar kos ku seperti toko barang-barang bermerk. Aku tidak mau memakai pemberiannya, entah kenapa. Tak jarang pemberiannya itu kujadikan hadiah bagi kerabatku. Untungnya Revan tidak tahu itu.

“Gimana sayang? Baju ini cocok deh buat kamu. Gue beliin ya?”

“Nggak usah ah, Van.” Jawabku.

“Tapi kenapa sayang? Lagian harganya ga jadi masalah buatku ‘kan?”

“Nggak usah, Van! Sudah cukup kamu beliin aku barang! Aku nggak mau lagi kamu beliin barang!’ Tegasku ke Revan.

Aku pergi meninggalkannya dari butik itu. Tidak tahu kenapa hari itu aku merasa kuat untuk bilang tidak kepadanya. Yah, tapi baguslah. Keluar dari mall itu aku segera menyetop taksi yang sedang lewat. Aku bahkan berusaha keras untuk pura-pura tidak tahu bahwa Revan berteriak memanggil namaku.

“Mau kemana mbak?” Tanya si supir

“Jalan aja pak.” Jawabku.

Taksi pun berjalan meninggalkan tempat itu. Hingga akhirnya aku melewati taman ismail marzuki. Tiba-tiba muncul keinginan untuk sekedar jalan-jalan disana, karena memang sudah lama sekali aku tidak main ke tempat itu.

“Stop disini aja, pak!” Ujarku.

Aku pun turun seraya membayar ongkos taksi dan mulai berjalan-jalan mengitari taman. Ya hitung-hitung menghilangkan rasa jenuh pada pikiranku ini. Keadaan taman ini tak jauh berbeda dengan waktu terakhir aku berkunjung disini. Hanya pembaruan cat disana-sini sehingga terlihat lebit bersih. Banyak anak muda berkumpul. Rasanya benar-benar lama aku tidak main ke tempat ini. Karena semenjak aku berpacaran dengan Revan aku hampir kehilangan waktu luangku. Aku harus selalu mengikuti aktivitasnya. Bahkan ia sering mengganggu waktu tidurku dengan mengirimiku pesan singkat di tengah malam, waktu dimana aku harus beristirahat mempersiapkan tenaga untuk kuliah esok hari, dan parahnya, harus segera dibalas. Kalau tidak besok ia akan marah-marah kepadaku dan mengatakan aku tidak perduli kepadanya. Lha, kalau masalahnya ini, siapa yang lebih tidak perduli coba??

“Bang, es cendolnya satu.” Pesanku pada salah satu pedagang es di sudut taman

Walaupun hanya segelas es cendol yang harganya murah, tetapi rasanya sekarang jauh lebih nikmat daripada meminum minuman mahal bersama Revan, uh! Sungguh menyiksa. Kurasa hidupku pasti akan lebih menyenangkan tanpanya. Ingin rasanya aku berlama-lama lagi di tempat ini hingga semua penatku hilang. Tapi matahari tidak bias diajak kompromi lagi. Ia sudah sibuk tenggelam di sela-sela gedung-gedung pencakar langit kota Jakarta, dan artinya aku harus pulang.

“Berapa, bang?” Tanyaku.

“Dua ribu lima ratus aja, neng.” Jawab pedagang itu.

Begitu aku raba sakuku untuk mengambil uang, ASTAGA! Uangku habis! Pasti gara-gara terlalu lama di taksi sehingga ongkosnya jadi mahal. Duh! Bagaimana ya ini????

“Aa.. aanu, bang.” Kataku terbata.

“Biar aku aja yang bayar.” Sahut seseorang dibelakangku. “sekalian aja sama punya saya, bang!”

“Emm.. terima kasih ya. Kog kamu tahu sih aku nggak bisa bayar??” Tanyaku.

“Kelihatan kog dari gelagat kamu.” Jawabnya singkat.

Duh! Malunya. Mana aku dibayarin sama cowok yang aku nggak kenal lagi.

“Kalau aku ngelihat kamu, kamu pasti lagi ada masalah ya?”

“e.. eh.. iya sih.”Jawabku pelan

“Hha! Perkiraan aku tepat. Oh iya, namaku Riza. Riza damiano.” Ujarnya sambil mengulurkan tangannya.

“Namaku Alisa Arindina.” Jawabku pelan.

“Yaudah, sekalian aja kamu aku anter pulang ke rumah. Soalnya pasti kamu nggak punya uang juga untuk pulang kan? Lagipula udah sore gini."

“Eh.. iya, makasih lagi ya.”

Jadilah aku dianter pulang ke rumah oleh Riza dengan motor ‘Ninja’nya. Anehnya, dia sama sekali nggak ngebut seperti orang-orang yang memiliki motor tipe ini kebanyakan. Dia seperti tahu aku nggak mau diajak ngebut. Sesampainya di rumahku dia cuma nurunin aku dan langsung pamit. “apa bisa ketemu lagi ya?” ups! Tiba-tiba muncul tanya dalam hati yang segera kubuang jauh-jauh. Tumben ada pikiran seperti ini pada orang yang baru kukenal. Dan aku pun tersenyum.

***

“Jadi lo muter-muter Jakarta naik taksi sampai duit lo abis gitu??” Tanya Renata setelah kuceritakan kejadian kemarin, sambil kami berdua berjalan menuju kelas.

“Ya habis mau gimana lagi. Aku suntuk banget ngelihat Revan.” Jawabku.

“Tapi gue mau dong dapet cowok kaya lo. Mana dibayarin treus dianterin pulang. Mau!” goda Renata padaku.

“Hus! Kamu ini apaan sih!” Jawabku sambil mencubit lengan Renata.

“Aduh.. duh.. iya deh neng, maaf. Eh! Gue dipanggil tuh. Ntar kita ketemu dikelas aja ya.”

“Oke!”Jawabku cepat.

Baru selangkah aku berjalan tiba-tiba aku menabrak seseorang. Eh, seseorang menabrakku. Aduh, pokoknya aku menabrak seseorang deh.

“Aduh, maaf maaf, aku nggak sengaja. Maaf aku nggak ngeliat jalan.” Ucapku cepat sambil segera mengambil buku-bukuku yang jatuh.

“Alisa?” Kata seseorang itu

“Riza?!” Seruku. ”Aku nggak tahu kalau ternyata kita satu kampus.”

“Aku juga.” Jawabnya.

“Eh, ngomong-ngomong ntar waktu pulang kuliah gimana kalau aku traktir. Ya sekaligus ucapan terima kasih aku atas yang kemarin.” Tanyaku.

“Emm.. boleh juga. Kebetulan aku lagi nggak ada kegiatan. Dimana, Sa?”

“Di Arretez aja. Kita ketemuan disana ya!”

“Sip deh!” jawabnya.

Setelah pertemuan singkat dengan Riza tadi pagi, aku masuk kelas dan belajar seperti biasanya. Hari ini dosen hanya memberika kuliah tentang pola kriminalitas saja. Ironis memang. Di satu sisi aku belajar ilmu kriminal yang berguna memberantas kriminalitas, tapi di sisi lain aku malah berhubungan dengan seorang kriminal macam Revan. Huh! Menyebalkan! Tapi entah mengapa aku menjdai kembali tidak konsentrasi mendengarkan dosen berbicara. Padahal aku sudah tidak memikirkan tentang Revan, yang biasanya membuatku tidak konsentrasi. Malah yang ada dipikiranku sekarang adalah makan siangku bersama Riza nanti. Duh, kenapa aku jadi mikirin Riza terus ya?? Apakah ini yang namanya…. Jatuh cinta?

Ketika aku tiba di Arettez, Riza sudah ada disana terlebih dahulu. Kami langsung memesan makanan dari menu yang diberikan oleh pelayan restoran. Aneh. Pertemuan yang aku kira akan kaku ternyata malah sangat menyenangkan. Riza ternyata bukan orang yang dingin dan sinis seperti kelihatannya. Sebaliknya, dia orang yang ramah, hangat, dan lucu. Dia bisa membuatku tertawa lepas, satu hal yang sudah lama tidak aku lakukan, setidaknya sejak bersma Revan. Ada satu perasaan muncul dalam hatiku yang aku sendiri bingung mendefinisikannya. Yang jelas bersamanya membuatku sangat bahagia.

***

Setelah makan siang bersama Riza tempo hari, aku dan Riza menjadi sering bertemu. Untuk sekedar makan siang bersama, berbagi cerita, tukar pikiran atau menjadi teman disaat aku down. Ada persaan nyaman yang kurasakan saat aku bersama dengannya. Dan sekarang segala sesuatu tentang Revan sudah kubuang jauh-jauh. Sampai akhirnya aku putuskan untuk mengambil sikap. Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Revan. Jadi malam itu, aku beranikan diri mengetik sebuah pesan singkat kepada Revan

Van, kita udah nggak cocok. Aku mau kita putus.

Ada perasaan was-was menyelimutiku, tapi aku yakinkan pada diriku bahwa ini adalah keputusan yang tepat.

Esok siangnya, ketika aku sampai di rumah pulang dari kampus, Revan sudah menunggu di depan gerbang rumah kos ku. Aku malas bertemu dengannya dan langsung melewatinya, berusaha segera masuk ke dalam rumah. Namun, tanganku ditarik olehnya.

“Lis maksud pesan kamu yang kemarin malam itu apa hah?!" Tanya Revan emosi.

“Itu sudah jelas kan, Van? Aku mau hubungan kita berakhir.”

“Berakhir katamu? Memangnya kenapa, Lis? Apa aku kurang baik sama kamu??”

“Kamu baik, Rev. tapi aku bukan bonekamu! Aku bukan orang yang bisa kau suruh memakai ini itu, melakukan ini itu, mengikuti segala aktifitasmu, menuruti semua keinginanmu, aku juga punya kehidupan sendiri, Rev!”

“oo.. jadi begitu. Kau bisa berkata seperti ini pasti karena cowok itu kan??”

“Cowok itu? Apa maksudmu, Rev?”

“Hah! Tidak usah pura-pura tidak tahu kamu! Ini buktinya!” Kata Revan sambil melemparkan sejumlah foto ke atas kap mobilnya. Dan foto-foto itu adalah foto aku bersama Riza.

“Ooh, jadi selama ini kamu memata-matai aku? Kamu keterlaluan, Rev!!” tanyaku marah dan segera melangkah masuk ke dalam rumah. Tetapi Revan kembali menangkap tanganku dan..

“Dasar kamu perempuan nggak tahu diuntung!” PLAAKK! Revan menamparku.

“REVAN! Teganya kamu!” Pekik ku.

“Ingat, Lis! Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, maka tidak ada yang bisa mendapatkanmu juga! Camkan itu, Lis!” Teriaknya sambil melaju pergi dengan mobilnya.

Dan seketika itu hujan turun.

to be continued.....

***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar