Rabu, 18 Januari 2012

Our Bad Songs is Actually a Good Thing (Really?)

well, i start this post with an funny phrase (i think). para muda Indonesia yang kebetulan nyasar ke Blog gue dan ga sengaja ngebaca posting ini, i would say keep on reading till last word, guys. i really want to know your opinion about this. so, okay let's start this thing,

sebenarnya pikiran gue ini muncul udah lama banget sekitar 4 tahunan yang lalu ketika gue amsih duduk di bangku SMA. gue sangat (sangat) sanksi sama lagu-lagu produksi negeri sendiri. well, gue tahu banyak lagu karya musisi kita yang keren banget, but unfortunately yang ga bagus justru lebih banyak. kenapa? karena gue berpikir kenapa sih banyak banget musisi yang membuat musik cuma untuk numpang tenar, cuma bikin musik yang umum yang laku keras kalau dijadiin RBT, dan juga lagu-lagu yang lirik lagunya sumpah enggak banget buat didenger, lagu-lagu yang cuma nurutin kemauan pasar. jadilah gue masuk ke masa-masa dimana gue sangat sangat skeptis sama lagu indonesia. gue buang semua lagu indonesia gue dari playlist dan gue ga mau dan ga peduli sama lagu-lagu indonesia. berpikir gue jahat?? tunggu dulu...

namun belakangan ini gue coba untuk berpikir kembali. sejauh apa sih gue benci sama lagu bahasa gue sendiri. gue benci lagunya? aransemennya? artisnya? atau semuanya? dari situ gue mulai dapet sedikit demi sedikit "pencerahan". gue yakin lo semua tau sama Lady Gaga dan bagaimana lagu Just Dancenya bener-bener asik buat didenger, seorang Kesha yang menghentak dunia dengan Tik Toknya. lo semua pasti tau sama David Guetta, seorang DJ yang lagu-lagunya selalu hits dan pasti cocok buat nemenin dugem juga masih banyak lagi segudang musisi-musisi barat yang lagu-lagu keren abis dan yang pasti worth it untuk dibela-belain beli CDnya ato donlod walaupun puluhan megabyte. tiba-tiba gue tersadar. kalian sadar ga, setiap lagu-lagu dance atau hip-hop beat dari mereka selalu menyinggung tentang party, dance, alcohol, party, bahkan sex yang memang notabene itu semua budaya mereka. so, sangatlah wajar bukan jika mereka sangat bagus dalam membuat musik-musik macam itu? it's all because they live it! they face it, dan they have it. itu hidup mereka. glamorous all the time.

So, kesimpulannya adalah... kita, Indonesia harus sehancur apa dulu budayanya untuk bisa membuat musik sebagus itu. apakah dengan memasyarakatkan klub-klub malam? menyebarkan selebaran yang berisi alcohol is okay? atau dengan bikin paham baru bahwa ganti-ganti pasangan dan free sex itu sih biasa?? the point is, kalau kita ga bisa membuat musik dance sebagus itu karena hal yang udah gue ceritain diatas, gue rela kok. gue lebih cinta sama bangsa gue sendiri. gue ga mau bangsa gue hancur hanya karena budaya yang secara diam-diam dibawa oleh lagu-lagu dan musik dari barat. gue masih mau liat orang-orang bangsa kita malu kalau ketahuan ke klub malam. gue masih mau liat orang-orang bangsa gue ngerti bahayanya mengonsumsi alkohol dan menurutinya (karena susu masih jadi minuman favorit! haha), dan gue masih mau liat orang-orang bangsa gue takut buat ngelakuin free sex. kita ini negara timur, bro. we have to remember that! so, in the end don't loose our identity and keep supporting our musicians no matter what!!! GO INDOENSIA! :)

Selasa, 10 Januari 2012

The Story : Hanya Ingin Bilang Cinta (Part 1)

Pagi yang sama. Hari yang sama. Itu berarti menjadi aktifitas yang sama bagi Alisa. Satu hal yang pasti dipikirkannya, dia masih terikan hubungan dengan Revan, pacarnya yang seorang pemimpin mafia terkenal di Jakarta. Sebenarnya Revan sangat mencintai Alisa. Tetapi bagaimaa pun juga Alisa tidak bisa menyukai Revan lebih dari seorang teman biasa. Kadang ia berangan-angan kalau saja ayahnya dan ayah Revan bukan teman dekat sehingga ia harus jalan bersama Revan untuk menyenangkan hati ayahnya. Harusnya aku bisa saja memutuskan hubungan ini, toh ayah juga sudah meninggal hampir setahun yang lalu. Tapi Revan terlalu posesif untuk menerima hal itu.

“Hei! Bengong aja lu! Bentar lagi dosen masuk tuh. Kog lu masih diem disini aja sih?” Tanya Renata.

“Ih ngapain sih kamu. Orang lagi mikir juga, diganggu aja!” Alisa protes.

“Ada apa sih? Mikirin Revan lagi? Udahlah cowok macam dia ga usah dipikirin mulu!!”

“Yeey.. siapa juga yang mikirin dia!” Aku bohong. “Udah ah! Ayo masuk kelas!”

Tapi seenggaknya masih ada Renata, sahabatku, yang bisa membuatku senang.

***

Pelajaran hari ini kulewati dengan tanpa konsentrasi. Aku terlalu suntuk untuk belajar hari ini. Tidak lain karena hari ini Revan akan mengajakku pergi. Huh! Dengan gontai kulangkahkan kedua kakiku keluar kelas ketika bel berbunyi. Benar saja, Revan telah menungguku di depan kampus.

“Siang cantik. Gimana? Udah siap jalan-jalan hari ini?” Tanya Revan.

“Terserah apa maumu deh!” Jawabku singkat.

Ferarri merah yang kunaiki pun segera meluncur ke salah satu pusat perbelanjaan terkenal di bilangan pondok indah. Sepanjang jalan Revan terus saja mengajakku mengobrol. Tapi aku sudah terlanjur badmood dengan hanya mendengar suaranya saja. Jadi aku hanya menanggapinya sesekali dengan anggukan kepala atau bahkan diam sama sekali.

“Kamu kenapa sih kog diam aja sayang?” Tanya Revan penasaran.

“Eh, nggak ada apa-apa kog. Kamu konsentrasi aja nyetirnya ya.” Jawabku.

Seperti biasanya, sesampainya di sana Revan langsung menarikku ke butik-butik mahal, makan di restoran terkenal, atau nonton film. Dia akan membelikanku barang-barang yang bahkan aku tidak pernah memintanya dan kalau aku menolak dia pasti marah dengan mengatakan aku cewek yang tidak tahu berterimakasih. Yah, jadilah kamar kos ku seperti toko barang-barang bermerk. Aku tidak mau memakai pemberiannya, entah kenapa. Tak jarang pemberiannya itu kujadikan hadiah bagi kerabatku. Untungnya Revan tidak tahu itu.

“Gimana sayang? Baju ini cocok deh buat kamu. Gue beliin ya?”

“Nggak usah ah, Van.” Jawabku.

“Tapi kenapa sayang? Lagian harganya ga jadi masalah buatku ‘kan?”

“Nggak usah, Van! Sudah cukup kamu beliin aku barang! Aku nggak mau lagi kamu beliin barang!’ Tegasku ke Revan.

Aku pergi meninggalkannya dari butik itu. Tidak tahu kenapa hari itu aku merasa kuat untuk bilang tidak kepadanya. Yah, tapi baguslah. Keluar dari mall itu aku segera menyetop taksi yang sedang lewat. Aku bahkan berusaha keras untuk pura-pura tidak tahu bahwa Revan berteriak memanggil namaku.

“Mau kemana mbak?” Tanya si supir

“Jalan aja pak.” Jawabku.

Taksi pun berjalan meninggalkan tempat itu. Hingga akhirnya aku melewati taman ismail marzuki. Tiba-tiba muncul keinginan untuk sekedar jalan-jalan disana, karena memang sudah lama sekali aku tidak main ke tempat itu.

“Stop disini aja, pak!” Ujarku.

Aku pun turun seraya membayar ongkos taksi dan mulai berjalan-jalan mengitari taman. Ya hitung-hitung menghilangkan rasa jenuh pada pikiranku ini. Keadaan taman ini tak jauh berbeda dengan waktu terakhir aku berkunjung disini. Hanya pembaruan cat disana-sini sehingga terlihat lebit bersih. Banyak anak muda berkumpul. Rasanya benar-benar lama aku tidak main ke tempat ini. Karena semenjak aku berpacaran dengan Revan aku hampir kehilangan waktu luangku. Aku harus selalu mengikuti aktivitasnya. Bahkan ia sering mengganggu waktu tidurku dengan mengirimiku pesan singkat di tengah malam, waktu dimana aku harus beristirahat mempersiapkan tenaga untuk kuliah esok hari, dan parahnya, harus segera dibalas. Kalau tidak besok ia akan marah-marah kepadaku dan mengatakan aku tidak perduli kepadanya. Lha, kalau masalahnya ini, siapa yang lebih tidak perduli coba??

“Bang, es cendolnya satu.” Pesanku pada salah satu pedagang es di sudut taman

Walaupun hanya segelas es cendol yang harganya murah, tetapi rasanya sekarang jauh lebih nikmat daripada meminum minuman mahal bersama Revan, uh! Sungguh menyiksa. Kurasa hidupku pasti akan lebih menyenangkan tanpanya. Ingin rasanya aku berlama-lama lagi di tempat ini hingga semua penatku hilang. Tapi matahari tidak bias diajak kompromi lagi. Ia sudah sibuk tenggelam di sela-sela gedung-gedung pencakar langit kota Jakarta, dan artinya aku harus pulang.

“Berapa, bang?” Tanyaku.

“Dua ribu lima ratus aja, neng.” Jawab pedagang itu.

Begitu aku raba sakuku untuk mengambil uang, ASTAGA! Uangku habis! Pasti gara-gara terlalu lama di taksi sehingga ongkosnya jadi mahal. Duh! Bagaimana ya ini????

“Aa.. aanu, bang.” Kataku terbata.

“Biar aku aja yang bayar.” Sahut seseorang dibelakangku. “sekalian aja sama punya saya, bang!”

“Emm.. terima kasih ya. Kog kamu tahu sih aku nggak bisa bayar??” Tanyaku.

“Kelihatan kog dari gelagat kamu.” Jawabnya singkat.

Duh! Malunya. Mana aku dibayarin sama cowok yang aku nggak kenal lagi.

“Kalau aku ngelihat kamu, kamu pasti lagi ada masalah ya?”

“e.. eh.. iya sih.”Jawabku pelan

“Hha! Perkiraan aku tepat. Oh iya, namaku Riza. Riza damiano.” Ujarnya sambil mengulurkan tangannya.

“Namaku Alisa Arindina.” Jawabku pelan.

“Yaudah, sekalian aja kamu aku anter pulang ke rumah. Soalnya pasti kamu nggak punya uang juga untuk pulang kan? Lagipula udah sore gini."

“Eh.. iya, makasih lagi ya.”

Jadilah aku dianter pulang ke rumah oleh Riza dengan motor ‘Ninja’nya. Anehnya, dia sama sekali nggak ngebut seperti orang-orang yang memiliki motor tipe ini kebanyakan. Dia seperti tahu aku nggak mau diajak ngebut. Sesampainya di rumahku dia cuma nurunin aku dan langsung pamit. “apa bisa ketemu lagi ya?” ups! Tiba-tiba muncul tanya dalam hati yang segera kubuang jauh-jauh. Tumben ada pikiran seperti ini pada orang yang baru kukenal. Dan aku pun tersenyum.

***

“Jadi lo muter-muter Jakarta naik taksi sampai duit lo abis gitu??” Tanya Renata setelah kuceritakan kejadian kemarin, sambil kami berdua berjalan menuju kelas.

“Ya habis mau gimana lagi. Aku suntuk banget ngelihat Revan.” Jawabku.

“Tapi gue mau dong dapet cowok kaya lo. Mana dibayarin treus dianterin pulang. Mau!” goda Renata padaku.

“Hus! Kamu ini apaan sih!” Jawabku sambil mencubit lengan Renata.

“Aduh.. duh.. iya deh neng, maaf. Eh! Gue dipanggil tuh. Ntar kita ketemu dikelas aja ya.”

“Oke!”Jawabku cepat.

Baru selangkah aku berjalan tiba-tiba aku menabrak seseorang. Eh, seseorang menabrakku. Aduh, pokoknya aku menabrak seseorang deh.

“Aduh, maaf maaf, aku nggak sengaja. Maaf aku nggak ngeliat jalan.” Ucapku cepat sambil segera mengambil buku-bukuku yang jatuh.

“Alisa?” Kata seseorang itu

“Riza?!” Seruku. ”Aku nggak tahu kalau ternyata kita satu kampus.”

“Aku juga.” Jawabnya.

“Eh, ngomong-ngomong ntar waktu pulang kuliah gimana kalau aku traktir. Ya sekaligus ucapan terima kasih aku atas yang kemarin.” Tanyaku.

“Emm.. boleh juga. Kebetulan aku lagi nggak ada kegiatan. Dimana, Sa?”

“Di Arretez aja. Kita ketemuan disana ya!”

“Sip deh!” jawabnya.

Setelah pertemuan singkat dengan Riza tadi pagi, aku masuk kelas dan belajar seperti biasanya. Hari ini dosen hanya memberika kuliah tentang pola kriminalitas saja. Ironis memang. Di satu sisi aku belajar ilmu kriminal yang berguna memberantas kriminalitas, tapi di sisi lain aku malah berhubungan dengan seorang kriminal macam Revan. Huh! Menyebalkan! Tapi entah mengapa aku menjdai kembali tidak konsentrasi mendengarkan dosen berbicara. Padahal aku sudah tidak memikirkan tentang Revan, yang biasanya membuatku tidak konsentrasi. Malah yang ada dipikiranku sekarang adalah makan siangku bersama Riza nanti. Duh, kenapa aku jadi mikirin Riza terus ya?? Apakah ini yang namanya…. Jatuh cinta?

Ketika aku tiba di Arettez, Riza sudah ada disana terlebih dahulu. Kami langsung memesan makanan dari menu yang diberikan oleh pelayan restoran. Aneh. Pertemuan yang aku kira akan kaku ternyata malah sangat menyenangkan. Riza ternyata bukan orang yang dingin dan sinis seperti kelihatannya. Sebaliknya, dia orang yang ramah, hangat, dan lucu. Dia bisa membuatku tertawa lepas, satu hal yang sudah lama tidak aku lakukan, setidaknya sejak bersma Revan. Ada satu perasaan muncul dalam hatiku yang aku sendiri bingung mendefinisikannya. Yang jelas bersamanya membuatku sangat bahagia.

***

Setelah makan siang bersama Riza tempo hari, aku dan Riza menjadi sering bertemu. Untuk sekedar makan siang bersama, berbagi cerita, tukar pikiran atau menjadi teman disaat aku down. Ada persaan nyaman yang kurasakan saat aku bersama dengannya. Dan sekarang segala sesuatu tentang Revan sudah kubuang jauh-jauh. Sampai akhirnya aku putuskan untuk mengambil sikap. Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Revan. Jadi malam itu, aku beranikan diri mengetik sebuah pesan singkat kepada Revan

Van, kita udah nggak cocok. Aku mau kita putus.

Ada perasaan was-was menyelimutiku, tapi aku yakinkan pada diriku bahwa ini adalah keputusan yang tepat.

Esok siangnya, ketika aku sampai di rumah pulang dari kampus, Revan sudah menunggu di depan gerbang rumah kos ku. Aku malas bertemu dengannya dan langsung melewatinya, berusaha segera masuk ke dalam rumah. Namun, tanganku ditarik olehnya.

“Lis maksud pesan kamu yang kemarin malam itu apa hah?!" Tanya Revan emosi.

“Itu sudah jelas kan, Van? Aku mau hubungan kita berakhir.”

“Berakhir katamu? Memangnya kenapa, Lis? Apa aku kurang baik sama kamu??”

“Kamu baik, Rev. tapi aku bukan bonekamu! Aku bukan orang yang bisa kau suruh memakai ini itu, melakukan ini itu, mengikuti segala aktifitasmu, menuruti semua keinginanmu, aku juga punya kehidupan sendiri, Rev!”

“oo.. jadi begitu. Kau bisa berkata seperti ini pasti karena cowok itu kan??”

“Cowok itu? Apa maksudmu, Rev?”

“Hah! Tidak usah pura-pura tidak tahu kamu! Ini buktinya!” Kata Revan sambil melemparkan sejumlah foto ke atas kap mobilnya. Dan foto-foto itu adalah foto aku bersama Riza.

“Ooh, jadi selama ini kamu memata-matai aku? Kamu keterlaluan, Rev!!” tanyaku marah dan segera melangkah masuk ke dalam rumah. Tetapi Revan kembali menangkap tanganku dan..

“Dasar kamu perempuan nggak tahu diuntung!” PLAAKK! Revan menamparku.

“REVAN! Teganya kamu!” Pekik ku.

“Ingat, Lis! Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, maka tidak ada yang bisa mendapatkanmu juga! Camkan itu, Lis!” Teriaknya sambil melaju pergi dengan mobilnya.

Dan seketika itu hujan turun.

to be continued.....

***

Senin, 09 Januari 2012

The "Airport Experience"!

Today's story a little bit different than the others, but still it is from my life experience. Masih dari pengalaman pribadi yang gue amsih ga nyangka bakal ngalamin sendiri. Gue kira hanya pikiran gue aja. Tapi ternyata eh kejadian. Nah my airport experience was...

I forgot the exact time. Tapi yang jelas sekitar minggu pertama atau kedua bulan september dimana hari itu my best best friend, Helmi Nurfuadi akan balik lagi ke Jogja buat kuliah setelah hampir dua bulan liburan di Samarinda. Nah, betapa serunya dua bulan yang gue lewatkan sama sahabat gue yang satu ini (termasuk pulang jam 3 pagi dari rumahnya.. LOL). Singkat kata, the show must ended. Gue harus pisah lagi sama sahabat seperjuangan gue dalam menjadi 'Anak Gahol'. So, I have decided to accompany him to the airport, and say goodbye even for the very last time. Karena, si Helmi ini berencana pindah ke Jogja untuk seterusnya dan ga akan balik lagi ke Samarinda. So, this moment is like the last time he got in Samarinda. Makanya kenapa gue kekeuh pengen nganterin dia ke airport..

So, tanggal pulang pun udah ditentuin. Nah, on the day before he left, I am already go to Balikpapan to accompany my mother visiting my uncle. Rencana udah gue susun, pokoknya gue bakal nyambut dia di pintu airport.

Pada hari-H keberangkatan, dari pagi ibu gue udah bilang mau ikut nganter ke airport, gue bimbang tapi tetep bilang, "Iya". So, it's decided me and my mom go to the airport. Tiba-tiba perasaan gue ga enak.. Pesawatnya Helmi berangkat sekitar pukul 6 sore jadinya dia harus check-in paling lambat jam 5 kan ya. And mau tahu apa yang terjadi? Seperti biasa, ibu gue kalau lagi siap-siap mau jalan suka agak lama, jadilah Helmi udah nyampe duluan ke airport dan bahkan gue masih DIRUMAH!!! Gue langsung kesel deh. Itu gue jalan udah kayak kesetanan, cepet ga ketulungan, grusak-grusuk. Gue udah ngomel-ngomel kesel sampe mau nangis (karena kelilipan debu) karena kalau sampe gue ga ketemu sama sahabat gue yang satu itu gue bakal mogok ngomong dah sama ibu gue (now I realize it as a stupid thing to do!). Akhirnya dengan pikiran udah kemana-mana ngebayangin adegan film yang sedih menguras airmata abis antara dua insan yang gagal bertemu (saaahh...) langsung ibu gue nyegat angkot warna ijo yang lewat. Gue langsung bilang sama si pak sopir

Gue : (genggam tangan pak sopir) pak sopir…..

Pak Sopir (PS) : iyah..?

Gue : Cepetan ya pak ke airport, plis pak cepetaaaann.. (mata melebar, ingus mulai meler, bibir bergetar)

PS : i.. i.. Yah.. (nada agak jijik karena ingus gue netes ke tangan si pak sopir)

Semenit, dua menit si Helmi nelpon lagi, gue angkat dan dia bilang dia udah harus check in. saat itu udah deh gue langsung diem. Pasrah. Gue Cuma bilang, "mi, tungguin gue ya mi". *klik* telpon ditutup.

Tiba-tiba ibu gue pegang tangan gue, dan gue yang nunduk langsung ngeliat ke arah sinar terang itu.

Mamah : Ade', ntar begitu nih angkot berhenti, ade langsung lari aja ke dalem ya. Cari Helmi. Mamah ntar nyusul aja dibelakang. Yah?

Gue : (air mata bercucuran)iya mah…

Persis, begitu angkot yang gue naikin berhenti gue langsung tancap gas lari ke dalam airport. Serius! GUE LARI ke dalam airport! Jadilah gue bintang film jadi-jadian yang ga jelas lari-lari di dalam airport. Saat itu gue yakin banget orang-orang pada ngeliat gue. Karena setiap gue lewat semua orang langsung noleh dan mikir, "nih anak kenapa sih??". Yang ada dipikiran gue saat itu udah deh, FILM BANGET. Tapi gapapa deh, gue jadi ngerasa jadi bintang film, serius ini beneran! Makanya kalau anda-anda pengen ngerasain jadi pemain eifel I'm in love atau AADC KW super, cobalah untuk berlari-lari di airport sekali-kali. Trust me it works..

Sampe gue nyampe di terminal, gue lari-lari keliling nyari sesosok orang yang gue kenal. Tapi gue ga dapet. Saat itu gue bener-bener pasrah untuk kedua kalinya. Yah memang mungkin gue ga bisa ketemu dia untuk terakhir kalinya. Tiba-tiba telpon masuk dari Helmi. "Aldi! Kamu dimana? Aku nunggu di depan dunkin donuts". Gue langsung dapet semangat baru, gue jalan perlahan ke arah dunkin donuts, dan gue lihat seorang cowok dengan badan berisi, berkacamata dan memakai baju merah dan ransel hitam sedang berdiri. Gue langsung lari ke arahnya, gue peluk dia, gue cium (Hha! Just in your mind!!) dengan penuh perasaan haru. Sumpah!!! Gue ngerasa bener-bener jadi bintang film, man.. Habis ini gue apsti dapat piala citra. Dalam hati gue, "yaiyalah gue tadi ga liat elo mi, lo berdirinya pas banget dibawah eskalator sih . Gimana gue mau langsung liat???".

So, in the end, I get the happy ending. Gue akhirnya ngucapin farewell ke Helmi dan hari itu berjalan seusai rencana (bahkan lebih baik).

So, apa kalian punya "airport experience" yang lebih seru dari punya gue??? Coba Share sama gue! :)

Perjalanan Menjadi Penyiar Radio


Sunday, December 18, 2011
9:41 AM
Hmm… today's main topic is I finally have an audition on M-Radio. *sigh, after I thought I was never be able to pass that selection. Well, I must admit I was very excited when I knew that this morning. And I am getting more happier because I know that I with (approximately) 27 other people were the chosen over more than 100 people who is also apply for this job..
And about the audition. I must admit too I surely did a couple dumb things back there. FYI, today's audition is divided into two section. Section 1 is technical interview and the section 2 is about company loyalty interview. Well, from the first section I was told that : "I AM AN INCONSISTENT PERSON AND I AM THE MR. KNOWING IT ALL". Sad? Upset? Maybe. But, you know what after all being said by them, I didn't feeling sorry at all. Maybe I should thank them. Because of them I know my weak side so that I can improve myself even better. So?? … I guess I just could smile. :)

And for the second interview? Well, I surely say that I get this one. Mr. Agus was very calm and charismatic back there. Makes me so calm and comfortable. So, I guess I get his attention! ;) and after all the steps were done. They told me to come home and wait for another call. And when I get the call, that means I pass the test. And I will be the next announcer. But, until this time. My mobile phone just being silent. No message received, neither a call..
Seriously, what I've been thinking right now is, is okay to me if I didn't pass the selection. It's okay if I'm failed. Because I'm sure that there is even better plan that God has that waiting for me there (is it right, God?;) ). But now I feel just like a loser. Every time I failed I always say that thing. So, which one I must do God?? Believing in YOU 100% or just struggling as hard as I can???
Am I sad now? I don't know either, pal..

Tuesday, December 20, 2011
5:51 PM
FINALLY!!!! I got my answer!!! You know what??? I am accepted as a radio announcer in M-RADIO!!!!!! WOW!! Can you imagine that??? I pass the audition.. :')
It's very surprising message though.. I didn't expect it before, but Alhamdulillah (a lot!) I get it!!!
Whoo… keep on trying, keep on believing guys.. God always know us and make anything depends on ourselves..
Just very happy tonight.. Even I can't sleep very tight. I am too excited about this! Alhamdulillah Ya ALLAH… :')
PS : ternyata Bang Zacky bilang gini, kita nyari penyiar yang SOK TAHU. Kemaren bahkan gue dibilang SOK TAHU. Jadi is it mean that I am going well on this.. ;)
Today's line : "always have dreams and do whatever it takes for that dreams to comes true. But remember, God always knows what best for us... "