Selasa, 24 Juli 2012

DAD AND SON : DOMPET KEMBAR, MAKAN MALAM, DAN QUALITY TIME

Kali ini special gue mau ngebahas cerita antara gue dan abah a.k.a Bapak satu satunya yang bakal jadi kakek dari anak-anak gue. Seperti judulnya yang aneh banget but unique kalau gue bilang, ini adalah pertama kalinya gue ngebahas beliau. Hehe.. so, abah maaf maaf yah kalau ada yang ga berkenan. Here we go!

Gue berani bilang bahwa gue sama abah itu bukan dua orang yang terlalu dekat pada awalnya. Abah adalah tipe orang yang soliter dan kadang males ngumpul di tempat-tempat rame gitu dan beliau pada awal-awal keluarga gue dimulai bukan termasuk tipe orang yang family-friendly banget. Abah itu baik, tapi kadang kalau gue bilang sih salah menyampaikannya aja. Jadinya yang ada di dalam pikiran gue, abah itu orangnya Galak dan nyeremin plus ga bisa diajak bercanda. Pikiran ini bertahan sampe gue SMP. Gue masih mengangga abah adalah sosok sakral yang kedudukannya tinggi banget di rumah, yang kalau mau ngomong harus pake persiapan jiwa dan raga dulu. Bisa ditebak, komunikasi antara gue dan abah bisa dibilang ga jalan. Pernah dulu ada kali seharian itu ga ada ngomong gue sama abah atau enggak kalau gue ngomong “gini”, si abah bakal ngirain gue ngomong “gitu”. Ga nyambung. Makanya dulu pernah abah marah-marah pulang ke rumah dia bilang, “susah banget sih ngomong sama si Ade (gue), ga pernah nyambung!!”. Intinya, hubungan gue sama abah biasa-biasa aja malah hampir sekedar status aja. Karena waktu itu sih gue ngerasa abah juga ga mau tau apa yang ada di pikiran gue, apa yang gue rasain, apa yang gue mau, dan lainnya.

How the mighty have fallen. Sosok abah mulai berubah sejak gue lulus SMA dan mulai kuliah. Si abah udah mulai ngajakin gue jalan, ngobrol walaupun sedikit banget. Ya seenggaknya saat itu gue yakin, yang ini baru abah gue. Satu kejadian lucu yang bikin gue tambah yakin bahwa abah udah berubah adalah, dulu waktu gue ngalamin kejadian apa gitu (gue juga lupa), trus gue jadi uring-uringan gitu di rumah dan gue cerita ke emak gue. Beberapa hari kemudian emak ngasihtau gue kalau abah ngomong bahwa dia marah gitu ke gue, soalnya kok gue nggak cerita ke dia tentang masalah itu. Haha.. pas itu gue ketawa getir.

Teori gue Cuma satu sih. Lo semua tau EGO kan?? Perasaan tinggi diri sendiri yang harus dimenangin buat sekedar nunjukkin ini diri gue ke semua orang. Nah, teori gue EGO semua orang akan makin luntur sejalan dengan tambahnya umur. Karena menurut gue nggak ada orang yang mau sendirian di masa tuanya. Walaupun dia orang yang antisocial banget, suatu saat ntar dia pasti bakal sadar akan pentingnya orang lain. So, berdasarkan pengalaman gue teori ini bener. Gue ngeliat abah yang makin tua tiap harinya jadi sering senyum sendiri karena ngeliat kalau abah gue bukan lagi orang yang gue males ajak ngomong. Sekarang gue dan abah jadi lebih sering ngobrol, entah gue yang mulai atau dia duluan. Tapi gue lebih suka ngedengerin di cerita tentang apapun yang dia mau. Biasanya dia cerita masa-masa kuliahnya dulu, gimana tinggal di asrama, dan lain lain ala nostalgia. LOL! Gue jadi sering makan diluar bareng kalau gue gajian dari radio. Dan bahkan lucunya kita punya dompet kembaran gitu (dompet gue kan ilang, liat ceritanya di postingan kemaren-kemaren ya).

The point is, yang gue coba share ke lo semua adalah gue yakin banyak abah-abah diluar sana yang tipenya sama kayak abah gue : Pendiem, suka ngerjain apa-apa sendiri, keras orangnya. Jadi tinggal gimana lo deh sekarang yang harus ngubah cara pandang lo ke dia, dan gimana caranya lo cari jalan komunikasi lo sama dia. Inget aja, tiap hari dia bakal semakin tua umurnya begitu juag kita kan. Jadi ga ada salahnya untuk menghabiskan banyak waktu menyenangkan dengan si abah sebelum ntar udah ga bisa lagi karena berbagai alasan.. Go Dad and Son!!!

Jumat, 20 Juli 2012

The Story : Hanya Ingin Bilang Cinta (Part 2)



Beberapa hari sudah Alisa tidak masuk kuliah. Bahkan aku tidak bisa menghubunginya, ponselnya tidak aktif. Ada baiknya aku bertanya pada Renata saja. Kalau tidak salah ia adalah teman baik Alisa.
          “Ren, Alisa kemana sih? Kog sudah beberapa hari ini dia tidak masuk kuliah?” Tanya Riza
          “Za, seharusnya aku dilarang untuk cerita hal ini ke kamu. Tapi kurasa Alisa sangat membutuhkanmu sekarang jadi akan kuceritakan.”
          “Cerita apa, Ren? Apa maksudmu?”
          “Alisa ditampar oleh mantan pacarnya, Revan.” Jawab Renata pelan
          “APA!!” Aku kaget bisa-bisanya Revan melakukan itu kepada Alisa. “Kalau begitu aku harus cepat bertemu Alisa!”

***

Sesampainya Riza di rumah kos ku, ia dipersilahkan masuk oleh ibu kos ku. Kemudian aku dipanggil oleh ibu kos ku bahwa ada yang mencariku. Sebenarnya aku sangat tidak ingin bertemu Riza dengan kondisi seperti ini. Tapi apa boleh buat, aku keluar kamar. Dan Riza terkejut melihat ada bekas kemerahan di pipiku. Matanya terlihat merah.
          “Ini keterlaluan, Sa!!”
          “Enggak apa-apa kog, za. Aku udah agak mendingan kog.” Jawabku.
          “Tapi ini sudah kelewatan! Aku nggak habis pikir dia berani menyakiti perempuan!” Tukasnya.
          “Sudahlah, Za. Nggak usah di…”
          “Karena aku menyukaimu, Sa.” Potong Riza. “Dan aku nggak rela wanita yang aku sukai diperlakukan seperti ini. Aku akan buat perhitungan dengannya!”
Aku terkesiap. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa Riza akan menyatakan hal itu. Rasanya waktuku berhenti beberapa saat. Ada perasaan bahagia menyeruak, yang kemudian mendorongku untuk mengatakan sesuatu yang selama ini aku cari jawabnnya.
          “Riza, ada sesuatu juga yang ingin kukatakan..” belum selesai aku menyelesaikan ucapanku, Riza langsung pergi meninggalkanku. Bahkan ia tidak menggubris cegahanku. Segera kusetop taksi yang lewat dan berusaha mengejar Riza. Riza tahu dimana ia bisa menemukan Revan karena dulu aku pernah menceritakan tentang Revan kepadanya. Ya tuhan, aku tidak menyangka akhirnya akan seperti ini.
***
Akhirnya Riza sampai ketempat Revan berada. Tempat itu adalah sebuah areal kosong dengan dinding kawat disekelilingnya. Tumpukan ban-ban bekas teronggok di sudut-sudut dinding. Hanya ada satu bangunan di tengahnya yang juga kelihatan sudah tua. Debu dan sarang laba-laba di sana-sini. Ada perasaan takut menyelimutiku. Firasatku buruk.
          “KELUAR KAU REVAN!! AKU TAHU KAU ADA DI DALAM!” Teriak Riza.
          “Riza aku pikir ini bukan ide yang bagus. Ayo, kita pergi saja dari tempat ini.” Pintaku.
Tetapi Riza tetap tidak menghiraukan kata-kataku. Dia terlihat sangat marah. Dia terus berteriak memanggil nama Revan. Sampai akhirnya Revan keluar dengan beberapa anak buahnya.
          “Wah wah lihat siapa yang datang?” Tukas Revan.
          “ah! Diam kamu, Van! Sekarang kau harus menerima balasan dari perbuatanmu terhadap Alisa!”
          “Hah! Dia memang pantas mendapatkannya!” cemoohnya.
Aku hanya bisa terdiam di sisi mereka. Aku kenal Revan. Jika ia sudah marah, ia bisa melakukan apa saja. Riza bisa saja dalam bahaya. Aku ingin sekali melerai mereka, namun kedua lututku gemetar begitu kencang hingga aku bahkan tak sanggup melangkahkannya.
          “Aku bahkan tidak harus menghadapimu, Za. Anak buahku saja sudah cukup untuk mengalahkanmu.”
          “Dasar pengecut! Bilang saja kau tidak berani menghadapiku kan?”
          “Tarik kembali kata-katamu barusan! Tapi kalau itu memang maumu, baik, akan kulakukan sendiri. Kalian ayo pergi!” Perintah Revan kepada anak buahnya.
Setelah semua anak buah Revan pergi meninggalkan tempat itu, Riza segera maju dan meninju wajah Revan. Revan terhuyung mundur beberapa langkah. Tetapi ia segera membalas tinjuan Riza dengan pukulan telak ke arah perut. Mereka terus berkelahi. Riza benar-benar tidak mau kalah, tetapi Revan jauh lebih kuat daripada Riza karena ia sudah terbiasa dan sering berkelahi dengan orang lain. Akhirnya yang kutakutkan benar. Riza akhirnya tak sanggup berkelahi lagi. Ia jatuh tersungkur ke tanah. Ia terbaring. Namun bukan Revan namanya jika membiarkan lawannya selamat. Ia mengangkat kerah baju Riza, kemudian meninju wajahnya lagi. Hingga wajah Riza penuh lebam. Bibirnya berdarah. Ia terkapar. Dan lagi-lagi aku hanya bisa diam. Tubuhku gemetar. Aku ingin berteriak, namun suaraku tertahan di tenggorokan, tidak bisa keluar. Seakan mengerti perasaanku, langit yang tadinya cerah berubah mendung dan turun hujan.
         
          “ha.. ha.. ha.. kasihan sekali kau Riza! Ambil ini! Seraya melemparkan sebuah pistol dari saku kanannya.” Kurasa kau bahkan tidak sanggup lagi bahkan untuk memegangnya dan menembakkan pelurunya ke arahku.

Revan berjalan menjauhi Riza dan mendekatiku. Aku terlalu takut untuk melihatnya sekarang. Aku ingin berlari menjauh, tetapi kakiku terasa sangat berat untuk digerakkan. Kemadian Revan memegang wajahku dan berkata.
          “lihat laki-laki yang kau pilih daripada aku, Alisa. Dia sudah  terkapar. Hampir mati!” Seraya tertawa.
          “Kau masih ingat dengan kata-kataku yang dulu, Alisa?” Sambung Revan. “Tak ada yang boleh memilikimu selain aku. Jadi sekarang lihatlah dia mati.”
Revan berdiri dan mengambil sebuah pistol dari saku kirinya dan menembakkannya ke arah tubuh Riza. Aku berteriak histeris. Ada perasaan sakit yang tak tertahankan. Rasa sakit yang sama seperti saat aku kehilangan ayah, kehilangan orang yang aku cintai. Apakah ini artinya bahwa perasaanku kepada Riza adalah cinta. Sesuatu meyakinkanku dari dalam hati. Ya, ini cinta. Setelah aku menyadari ini semua, tiba-tiba aku merasa kuat. Cinta memberiku kekuatan untuk melindungi orang yang aku cintai. Aku segera berlari ke arah Revan dan memukulnya. Tetapi tetap saja aku tidak cukup kuat untuk bisa menjatuhkannya. Revan menahan pukulanku dan mendorongku hingga aku terjatuh
          “sayang sekali, Alisa. Sekarang dengarkan aku! Kalau aku pun tidak bisa mendapatkanmu, maka lebih baik kau juga mati saja!” Ucap Revan sambil menodongkan pistol kearahku.
          “Bunuh aku, Rev! Bunuh aku! Tukasku. Setidaknya jika aku mati, aku mati untuk cinta!”
Revan tertegun. Ia terlihat terkejut.
          “berdoalah. Semoga kalian bisa bertemu di alam baka. Sekarang kau lebih baik menutup kedua matamu. Itu akan lebih membantu.” Seraya mengembangkan senyum sinisnya.
Aku tutup kedua mataku. Aku takut. Tetapi rasa cinta ini lebih besar dari rasa takutku. Aku telah meyakinkan diriku sendiri bahwa bagaimana pun juga aku harus melewati semua ini. Aku tarik napas yang dalam. Napas yang mungkin menjadi yang terakhir untukku.
          “Tarik saja pelatuknya, Rev.” ucapku pelan.
Kemudian, satu detik.. dua detik..
DOORRR!!!!

aku terdiam untuk beberapa saat. Apakah aku sudah mati? Tapi kenapa aku tidak merasakan apa-apa? Kucoba untuk membuka mata perlahan. Aku tidak mati! kemudian kulihat Revan berdiri terpaku. Aku bingung. Namun segera kulihat noda merah didadanya. Itu darah! Ternyata Revan tertembak. Ia jatuh ke tanah dan segera kutangkap kemudian kubaringkan di tanah. Jadi suara tembakan itu.. tapi siapa yang..??? di belakang Revan kulihat Riza memegang pistol dengan gemetar. Kemudian pistol itu ia lepaskan dan berusaha berjalan mendekatiku. Ia terjatuh saat ia sudah berada di dekatku. Kutangkap badannya. Ia memelukku. Pelukannya saat itu tersaa sangat hangat. Dinginnya titik hujan seakan tak terasa lagi
          “Alisa, maaf aku sudah membuatu cemas.” Ujarnya pelan.
          “Riz, kamu terluka! You don’t have to say anything right now, please!” Pintaku. “kita harus ke rumah sakit. Aku harus cari bantuan.” Kataku sambil berusaha berdiri namun Riza memegang tanganku.
          “Nggak usah, Sa. Aku nggak apa-apa.”
          “Nggak apa-apa bagaimana??! kamu tertembak, za!” Isakku. Air mataku sudah tidak terbendung lagi dan aku mulai menangis.
          “Nggak usah menangis, Sa. Aku akan sembuh kog. Aku akan ada untuk menjagamu. Lagipula ditemani kamu disini sudah membuat rasa sakitnya hilang, Sa.”
Aku tak bisa berkata-kata. Aku terlalu sibuk dengan air mataku yang terus keluar. Kemudian Riza memegang tanganku.
          “Sa, aku ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu. Sejak kita dekat, bahkan saat pertemuan kita yang pertama, aku sudah suka padamu. Aku sungguh-sungguh menyukaimu, Sa dan Alisa Arindina, maukah kau menjadi pacarku??” ucap Riza lirih.
Aku hanya bisa menganggukan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya. Perasaanku campur aduk. Aku begitu bahagia hingga aku tidak bisa membedakan air mata bahagia ataukan kesedihan dan ketakutan yang keluar dari kedua mataku.
          “Iya tersenyum. Senang rasanya mendengar jawaban itu walau di akhir.” Ucapnya.
          “Di akhir? Apa maksudnya, Za?! Riza tolong bertahanlah! Aku akan panggil bantuan. Tolong jangan buat aku takut.”
          "Haha..” Riza tertawa kecil. “Aku cuma capek, Sa. Capeek sekali.” Jawabnya pelan.
          “Dan sekarang aku sangat lelah, Sa. Aku suma ingin tidur yang lama untuk menghilangkan capekku ini. Aku ingin istirahat sebentar.. ya?”
          “Riza? Riza? Riza!! sadar Riz! Nggak boleh! Kamu nggak boleh istirahat! Buka kedua matamu, Riz! Riza! Rizaaa!! tangisku pecah lagi. Dadaku terasa sangat sesak. Rasanya duniaku seperti berakhir. Pelukan Riza tak lagi hangat. Kedua matanya tertutup rapat. Riza mati di pelukanku.
Saat itu hanya ada tangisanku dan deru hujan. Seandainya saja aku menyadari rasa ini lebih cepat. Seandainya saja aku dapat mengulang waktu. ya.. seandainya saja. Hanya seandainya saja. Aku hanya ingin bilang cinta kepadamu... 

Heavenly Spank

kadang menjadi manusia itu wajar jika lo lupa akan semuanya. Dari hal-hal kecil bahkan kadang hal besar pun bisa dilupain. Karena sifat lupa itulah manusia seperti kita perlu orang lain untuk sekedar mengingatkan, memberi perintah atau "membentak" jika kita lupa. Bahkan kalau lo pikir lagi, manusia nggak cuma butuh manusia lain untuk jadi reminder nya. Tapi kadang kita butuh yang lebih dari manusia. Yep! gue bicara tentang Dzat yang maha tinggi, apalagi kalau bukan Tuhan. manusia emang dari sananya punya bakat bandel, jadi emang perlu sesekali dapet "tamparan" dan "pukulan" dari sana agar pikirannya terbuka. Agar otak manusia yang udah sok disibukin sama aktivitas dunia bisa kembali normal dan mengembalikan semuanya ke hati nurani.

dan malem ini, gue baru aja dapet satu tamparan kecil..

malem ini gue jalan ke salah satu pusat perbelanjaan di Bontang. yang ada supermarketnya gitulah. padahal tadinya ga ada niatan kesana sebelumnya tapi karena udah dijalan (kebetulan keluar beli cemilan) jadi ya sekalian aja jalan. Sampe di parkiran otomatis gue bayar uang parkir trus parkir dan masuk terus belanja. Tapi di jalan masuk ke pintu supermarketnya ada anak-anak penjual koran yang ngedeketin gue, ya jelas nawarin gue koran pagi yang gue liat masih ada kali 10 eksemplar belum kejual. Ga tau kenapa gue nolak ngebeli tuh koran. Tapi dalam hati, gue bilang ntar aja lah gue beliin deh korannya abis gue belanja. gue inget banget ini omongan. Akhirnya gue masuk dan belanja. Sampai di kasir untuk ngebayar gue pegang kantong belakang gue dan gue ga nemuin benda yang biasa ada disitu..

"DAMN!! DOMPET GUE!!!"

gue langsung lari ke parkiran motor dan nyari dompet gue disitu tapi ternyata udah lenyap alias hilang. Gue baru inget tadi pas bayar dompet gue ditaruh di laci motor matic depan dan gue lupa ngambil. Ya udah lah pasrah aja gue habis itu, yang jelas gue jadi kehilangan kartu-kartu penting plus uang lah walaupun ga seberapa. At that time i feel upset but what makes me surprised was i don't feel sad or depressed because i lost something important. gue ngerasanya ya jadinya biasa aja sih, udah hilang mau diapain coba.
intinya setelah kehilangan itu gue nyadar sesuatu. inget si anak penjual koran yang tadi. kalau aja gue nggak nunda ngebeli koran tuh anak, mungkin dompet gue ga bakalan hilang karena gue bakal nyadar lebih cepet kalau dompet gue ketinggalan di motor. itu gue langsung diem dan jadi dapet sesuatu dari kejadian itu. gue langsung ngerasa kalau "BIG BOSS" di atas sana lagi nyoba ngasitau gue dengan cara gini. mungkin selama ini gue jarang sedekah, jarang beramal dan ini cara buat ngingetin lagi kalau gue mesti lebih banyak lagi berbuat baik.

kenapa gue share cerita ini ke lo pade, mumpung ini moment mau masuk bulan puasa kan ya. Jadinya gue cuma pengen ngingetin diri gue sendiri dan mungkin lo lewat cerita ini. Biar kita semua bisa jadi manusia yang lebih baikan lagi deh dari yang sekarang ini. kan kalau enggak kita yang rugi juga. The point is, jangan pernah menunda sesuatu atau kelakuan yang baik. kalau itu memang bener-bener baik, lakukan segera dan jangan diulur-ulur. seenggaknya ga usah dapet heavenly spank kaya gue lagi lah.
So, met memasuki bulan penuh rahmat dan berkah di Ramadhan 1433 H. Be a better man for sure, and do it now, bro! :)