Rabu, 18 September 2013

Life is Just Opportunities

Gue mulai sama cerita dulu deh. Faris temen gue yang kuliah di Yogyakarta ceritanya lagi pulang ke Samarinda. Singkat cerita karena lama nggak ketemu gue janjian lah ketemuan sama dia. Gue janjian main ke rumahnya. Rencana udah diatur. Pada hari janjian, gue langsung berangkat dari kampus ke rumah temen gue ini. Gue ketok pintu rumahnya tapi nggak ada jawaban. Gue telepon temen gue, ponselnya sibuk. Tapi gue yakin dia ada di dalam rumah karena gue bisa denger suara televisi dari dalam. Akhirnya kurang lebih 15 menit gue berusaha mengetuk tapi ternyata dia nggak denger juga. Gue memutuskan pulang berhubung sebentar lagi sholat jumat (hari itu pas hari jumat). Sebel? Sedikit sih. Bukan karena gue nggak dibukain pintu, lebih karena gue kehilangan kesempatan main sama sahabat gue yang emang nggak sering sering banget balik secara dia kuliah di luar pulau. Setelah itu gue sms aja, kasih informasi kalau tadi gue udah dateng tapi kayaknya nggak ada orang dirumah. Ternyata bener dia ada dirumah dan televisi menyala, tetapi dia lagi teleponan sama temennya di Yogya sana soal tugas kuliah. Nggak aneh kalau ponselnya sibuk waktu gue hubungin. Hahaha.. So in the end our plan is totally not working.

So guys, what i want to say is life's sometimes just like my story above. Kadang kita udah punya master plan dari jangka pendek, menengah, bahkan master plan jangka panjang soal what we want to do in our life. Semacam prosedur kerja lah istilahnya. Kita seakan akan udah tau bahwa nanti kita bakal pergi kesini, kuliah di jurusan ini, universitas itu, kerja di perusahaan ini, punya mobil merek itu, dan banyak rencana hidup yang kesannya kita lah yang mengatur dan merencanakan hidup kita sendiri. Kaget? Aneh sama kata-kata barusan? Harusnya enggak. Karena banyak dari kita mungkin saja lupa kalau kita ini hanyalah pelaksana tugas. Bukan perencana apalagi pengatur. Gue ambil analogi begini deh, anggaplah hidup ini adalah sebuah mobil taksi. Kita adalah supirnya dan tugas supir adalah mengantar penumpang  kemana pun asal tarifnya sesuai. Nah, berarti supir bukanlah  pengendali tujuan dari mobil taksi itu kan. Penumpang lah yang mengatur si supir taksi ini harus kemana, lewat mana, dan harus berhenti dimana.

Sekarang gue kembaliin deh ke realitanya. Mobil taksi tadi adalah hidup kita ini, yang gue dan lu jalanin sekarang. Saat ini. Si supir tadi adalah kita, gue dan lu. So last but not least, who's the passenger? Penumpang tadi adalah Tuhan. Banyak dari kita lupa akan perannya sehingga pada saat membuat rencana hidup seakan-akan mengambil alih peran Tuhan. Padahal kita ini Cuma pelaksana loh guys. Nggak percaya? Gue lulus kuliah dengan nilai UN biologi tertinggi se-SMA gue, dulu gue pengen dapet beasiswa ke Jepang untuk kuliah jurusan biologi yang udah gue impiin dari kelas 2 SMA tapi ternyata gue gagal. Gue akhirnya kekeuh pengen kuliah di jurusan biologi tapi ternyata nggak jodoh, tawaran di IPB ditolak, di ITB dan UI juga gagal tuh. Akhirnya malah gue masuk jurusan Teknik Kimia. But in the end, alhamdulillah gue bisa ketemu banyak banget kesempatan dalam hidup yang seru. Gue dikirim ke Jakarta buat konferensi mahasiswa Teknik Kimia se-Indonesia, gue bisa jadi penyiar radio beken se-Samarinda, gue bahkan punya fans! Gue bisa kerja praktik di perusahaan Gas No. 1 di dunia, gue punya kesempatan direkrut perusahaan oil and gas service No. 1 di dunia, dan masih banyak hal yang gue alamin yang bahkan nggak pernah terlintas di pikiran gue. Kepikiran aja nggak apalagi di rencanain.

Terus mungkin ada dari lu yang mikir, "ya udah lah, nggak usah ngerencanain apa-apa kalau gitu. Biarin aja hidup ngalir. Toh kita Cuma ngelaksanain tugas doang??" Ya enggak gitu juga kali. Itu namanya lu udah nyerah sama hidup. Artinya mau dimatiin terserah, mau dikasih tetep hidup ya terima kasih. It's a waste. Gue bukan bilang kita nggak boleh bikin rencana hidup loh ya, tapi gue Cuma bilang kita harus ingat pada saat merencanakan sesuatu harus kita kembalikan sama Tuhan. Bukannya Tuhan itu mengikuti prasangka hamba-Nya? Komunikasikan dengan Tuhan bahwa ini adalah rencana hidup kita dan kita akan berusaha mencapainya. Namun apabila harus ada yang berubah ya kita harus lapang dada menerima semua perubahan itu, karena Tuhan yang lebih tau atas semua hal. Satu hal penting lagi, ketika kita menginginkan sesuatu atau ingin rencana kita berjalan sesuai yang kita mau, dan ternyata tidak tercapai, itu bukannya Tuhan nggak mau ngasih hal itu ke kamu. Tapi kadang itu terjadi hanya karena kita belum pantas. Artinya, ketika lu pengen sesuatu atau pengen rencana hidupnya berjalan sesuai yang lu mau, ya bikin diri lu pantes dulu mendapatkannya. Caranya? Banyak. Ya ibadahnya ditambah, lebih rajin, amalan sunnahnya dikerjain, lebih banyak berbuat baik, kurangin deh tuh hal-hal yang sekiranya nggak perlu, intinya lu bisa cari kok apapun yang bisa bikin diri lu seorang pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Biar Tuhan yakin bahwa rencana lu emang yang terbaik buat lu.

Haha.. Oh iya satu lagi. Selalu ingat kalau ada satu kesempatan hidup yang lu lewatin, jangan buang-buang waktu lu untuk menangisi kesempatan yang lewat itu. Mending lu langsung move on, get your chin up, dan liat lagi kesempatan mana lagi yang lagi tersedia. Karena pasti ada pintu lain yang terbuka kalau pintu lain tertutup, ya kalau tertutup semua lewat jendela aja. LOL. Have a good day, everyone. Cheers!

1 komentar: