Minggu, 24 Februari 2013

The Hardest Thing, Accept or Let Go?

Many people said that the hardest thing that you can accept is to know the truth of something inconvinient. The world is also saying that to you. In my life i have seen so many dissapointed faces when it comes to the truth, many unpleased feeling and that's just from incompetency to accept. They don't want to accept the real thing. They go through the denial phase. I am sure many of you that read this blog have the same feeling as almost half of world population feel. Karena banyak orang yang memang gak suka dan gak mau menerima kenyataan. But it's not me. 

For me the hardest thing is not accepting things, but in the other way around, the hardest thing for me to do is to let things as they gone from my life. Yup! Menurut gue hal yang paling sulit gue lakuin adalah ngelepasin sesuatu. If i don't have it from the beginning, of course i'll be sad, but hey it's life, right? We don't always get what we want. I will be fine. But to let go of something?? Uh oh, it's a different things my brother. Gak gampang untuk bisa ngelepasin gitu aja sesuatu yang tadinya ada di kehidupan lo untuk terus hilang. It's not that easy. Because first, the memories that you have is lingering every damn time. This is the truth. One day, i have to moving from my old house to my new house which is smaller than my old house. We have to cut down as much as possible things that we don't really need anymore and give it to the neighbour or just sell it in the flea market. At that time, i have so many things from my childhood that i like. Every single things have memories within. I almost cried (literally) when i decide to give half of my toys to the neighbour kids. But it happens and must be done. As time passed by fortunately, i feel fine. I can't even remember how many things that i gave that time. I am already LET GO. Second, why this things is so hard to do is because it's just natural for human like us to have urge for having everything. Every single thing whether it's important or not. 

I know it's hard but i tell you guys. This thing must be done. Hal yang satu ini wajib kamu kuasai setiap sisinya dan seluk beluknya. Kalau pun kamu belum perlu sekarang, tapi nanti pasti akan ada masanya dimana kamu harus ngelepas. We always be a bird in a cage if we don't let things go. Gak akan bebas. Gak akan tenang dan hidup kita akan terus dihantui rasa bersalah, rasa sedih, takut. Tapi sekali kita melakukannya, we can be free again. Beban didalam hati lu bakal hilang serta merta seiring lu rela ngelepas itu. So guys, let it go for pekerjaan yang belum bisa lu dapetin, let it go for kesempatan beasiswa yang gagal lu dapetin, let it go for mantan pacar yang udah punya pacar baru yang lebih keren dari lu, let it go for orangtua yang udah nggak ada di sisi lu, let it go for anak-anak yang udah nggak nemenin lu, let it go for kesempatan yang udah lu lewatin, dan let it go for jalan yang nggak lu ambil untuk hidup lu. Percaya guys, ketika lu udah bisa let it go for all your burden, you will finde another way to fill in your memories and make your life in line lagi. Have a good day, guys! :)

Ask Yourself About Your Parent

Kali ini gue mau tanya dulu ke kalian deh. Jawab aja yang jujur ke diri sendiri. Pernah nggak sih elu pada marah atau bahkan benci sama orangtua lu?? Kalau kalian jawabnya tidak, berarti kalian sudah berhasil seenggaknya jadi anak yang berbakti ke orangtua lu sampe umur lu yang sekarang. Keep up the good attitude. Tapi kalau lu jawab pernah marah atau bahkan benci sama orangtua lu sendiri, tanya lagi deh sama diri lu sendiri apa masih mau benci, setelah lu baca postingan gue yang ini.

Dari gue kecil sampe masa-masa sekolah gue nggak pernah merasa dikecewain sama orangtua gue. Yah walaupun wajar kalau gue bilang pernah sebel dan kesel karena gue yakin ini sifatnya temporary alias ngikutin kemauan emosi doang. Nothing deep in it. Tapi untuk kata Benci, uh, It's a BIG NO. Gue nggak habis pikir  ada anak yang saking PeDe nya berani bilang ke muka umum, "Gue Benci Orangtua gue!!" mereka itu pada buta ye? emangnya mereka dari bayi dianggurin gitu aja terus tiba-tiba jadi gede kaya sekarang? Suka nggak peka emang anak zaman sekarang.

Intinya di postingan ini gue mau cerita tentang temen kecil gue, Adi. Gue sama Adi udah kenal dari balita kayaknya. Kita besar di kompleks perumahaan yang sama dan seinget gue dia adalah temen pertama yang bisa gue inget dalam hidup gue. Kita banyak ngabisin waktu buat main bareng. Satu moment yang gue inget banget sama Adi adalah, waktu itu gue dan dia masih duduk di TK, setiap pulang dari sekolah gue dan dia selalu main di bukit di belakang mesjid deket rumah gue. Pada saat itu, lagi booming banget sama kartun Ninja Hatori. Haha.. Gue selalu terharu banget kalau inget gimana kita berdua niruin gerakan ninja dan sok sok-an berantem ala ninja. Anyway, masa masa itu emang priceless banget dan dia emang salah satu temen TK yang paling gue inget. Oh iya, Adi ini punya warung milik ayah dan ibunya. Tipe warung kelontongan yang jual macem-macem kebutuhan rumah mulai dari lilin sampe batu baterai. Good times continues sampai satu saat, Ayahnya Adi meninggal dunia. Gue tau dari mamah. Saat itu gue nggak dateng ke rumah Adi. Gue lupa kenapa dan gue nggak tau saat itu Adi nangis atau enggak. Nggak lama setelah ayahnya Adi meninggal, Ibunya kemudian meninggal dunia juga. Gue lupa kalau nggak salah sekitar satu atau dua tahun. Pada saat ini juga gue nggak ngeliat Adi. Gue nggak dateng ke rumahnya, dan gue pengen tau dia nangis atau enggak. Setelah kedua orang tua Adi meninggal di umurnya yang masih belum masuk usia SD, Adi diurus oleh kakak kakaknya. FYI, Adi punya beberapa orang kakak yang sudah mahasiswa. At first, gue nggak ngerasa ada something's wrong with Adi. Gue masih ngerasa Adi adalah orang yang sama seperti Adi sebelum kedua orangtuanya meninggal dunia. Tapi dari yang gue denger-denger dari para ibu-ibu saat bertemu, mereka selalu bilang, "kasihan ya si Adi, bla.. Bla.." gue bingung? Karena anaknya main tiap hari sama gue nggak ada apa-apa kok.

Tapi ternyata emang ada yang berpengaruh. Pernah satu saat ketika Adi selesai main di rumah gue, dia pulang. Eh nggak lama kemudian, dia balik lagi tapi kali ini barengan kakaknya. Kakaknya nyuruh dia untuk minta maaf ke gue dan ngasiin satu genggam action figure kecil gue yang dia ambil ternyata. Jujur, saat itu gue nggak ada perasaan marah sedikit pun. Marah pun enggak. Padahal gue orangnya cukup pelit kalau masalah mainan. Disitu gue sadar emang ada something wrong with him. I think he's hurting inside.

Waktu terus berjalan, gue masih tumbuh bareng Adi. Kita setelah itu masuk SD yang sama dan masuk kelas yang sama. Di 6 tahun gue SD, gue lihat Adi baik-baik aja. Tapi ketika gue dan Adi harus masuk ke SMP berbeda, gue mulai denger berita-berita yang nggak baik tentang dia. Bukan nggak baik dalam hal apa ye guys, contohnya ada sering bolos sekolah. Gue nggak tau apa karena Adi nggak punya shoulder to cry on lagi atau apa. Yang pasti setelah masuk SMA, sikapnya makin nggak baik. Gue pernah liat telinga dia ditindik. Setiap gue pulang sekolah sore sekitar jam 4 atau jam 5 atau bahkan malem setelah maghrib, gue selalu liat dia nongkrong di depan rumahnya barengan temen temennya, sambil merokok! Gue sempet BeTe ngeliat temen-temennya sekarang yang kok kesannya malah menjerumuskan. Waktu itu gue Cuma bisa ngomong dalam hati bahwa gue sedih banget ngeliat dia jadi begitu sekarang. Bahkan dia pernah kabur ke salah satu kota, gue lupa, selama beberapa bulan dan itu bikin dia nggak naik kelas dan terpaksa harus menghabiskan masa SMA selama 4 tahun. The fact is, i was there but i can't do anything for him to make him better.

The point is, i wanna tell you the important (very important) role of parents. You see, growing up without real parent is almost impossible for some of us. Hampir susah untuk bikin satu karakter yang nggak impulsif, tenang, dan tau akan dirinya sendiri ketika nggak ada peran dari orangtua. Gue sendiri aja nggak bisa ngebayangin kalau nggak ada orangtua. It's like the worst nightmare. So guys think before you talk. Jangan sampe keluar kata-kata yang bisa bikin lu nyesel di kemudian hari. Nggak ada alasan untuk bisa benci sama orangtua lu sendiri dan nggak pernah ada seburuk apapun mereka (ya sebenernya ada sih beberapa hal, contohnya ayah yang memerkosa anaknya sendiri) karena in the end, we are here because they are there. Kita ada karena mereka ada. Love your parent guys! Mumpung masih di bulan Februari yang kata orang bulan kasih sayang. Send some love to them. Have a good day!

Beken? Siap Nggak Digosipin?

Ga ada yang spesial sih dari tulisan gue yang ini. Cuma emang guenya aja yang jarang banget nulis masalah beginian. Tapi setelah kejadian ngobrol tentang umur-lo-udah-20-mana-pacar-lo kemaren, rasanya gue jadi kayak abg labil gitu. Yang kemana mana kerjaannya mikirin cinta mulu. Mau makan inget pacar, mau tidur inget pacar, jalan ke mall sendiri inget pacar, belajar di kelas mikirin pacar, asal jangan pas boker lo mikirin pacar aja deh. Kesian amat pacar lo dijadiin inspirasi dan penyemangat  lo buat menekan sepenuh jiwa raga kotoran yang bersarang dalam diri (bahasa gue). Bukan apa apa sih, gue jadi mikirin hal yang beginian gara gara sebuah skandal yang bisa bikin gue gelisah lahir batin. Ceritanya dimulai di suatu pagi, temen cewek gue nyamperin gue dan bilang dia buat sesuatu yang mesti dia kasihtau ke gue.

Temen cewek  : "aldi, sini deh gue punya berita penting!!!"
Gue : "(*masih bingung) eh, ada apaan emangnya?"
Temen Cewek : "eh, lu inget gak adik kelas yang kemaren gue bilang dia suka sama elo?"
Gue : "inget, maba itu kan? (*masih bingung nih arah ceritanya kemana)"
Temen cewek : "nah! Kemaren pas gue ketemu sama dia, gue tanya tuh anak, gimana kabar sukanya dia ke elo. Terus lo tau dia bilang apa???!"
Gue : "errr... Bilang apaan?"
Temen Cewek : "dia bilang dia udah biasa aja, dia udah nggak suka lagi sama elo, soalnya katanya dia lo SUKANYA SAMA COWOK sih!!"
Gue : "APAAAA??!!! CTARRR!!! *efek suara petir padahal emang ada petir karena mau hujan"

Habis tragedi berita skandal heboh di pagi hari itu gue seharian jadi uring uringan. Demi apa gue disangka homo, suka laki laki nggak doyan sama perempuan. Beneran, gue jadi kepikiran sampe kemana mana. Kerjaan gue Cuma mojok sambil jongkok dan berkata "gimana masa depan gue" ke lantai sambil nunjuk dan bikin lingkaran imajiner di lantai. Soalnya kalau ada satu aja maba yang bilang gue gitu, berarti udah bisa dipastikan bahwa semua maba bakal tau dan ngira gue dengan hal yang sama. Mampus dah gue, padahal udah ada rencana ngegebet maba cewek cantik dan manis tapi harus hancur luluh lantak gara gara sebuah gosip murahan. Cih! *ceritanya marah.
Hari itu setelah gue denger ni berita skandal, gue langsung kepikiran satu kejadian dan langsung teriak, "GUE TAU KENAPA!!!". Jadi gue yakin 100 persen alasan kenapa gue bisa digosipin sebagai Homo keren nan ganteng (*tetep narsis) adalah karena ulah seorang Dosen, sebut saja dosen K, yang dengan tanpa dosanya mengatakan di depan mahasiswa baru nan imut bahwa gue seorang GAY!!! Gini kejadiannya :

Gue ada perlu sama satu orang maba yang jadi junior gue di kepanitiaan acara kampus. Ya gue datengin lah ke kelasnya yang ternyata lagi diajar sama si Dosen K tersebut.  Lengkapnya gini nih :

Gue : "excuse me mister, i need to talk with Rini (nama disamarin yee)" karena si dosen ngajar bahasa inggris
Dosen K : "Oh, Okay. Rini, please come to Rizaldi there."
Gue : "Thank you mister"

Tiba tiba pas si maba cewek ini jalan ke arah gue yang lagi nunggu di luar kelas, gue denger selentingan yang asli sesuatu banget dah. Yang bikin kaget lagi ini si Dosen K yang ngomong di depan seluruh mahasiswa yang lagi diajar sama dia.

Dosen K : "saya sih nggak takut si Rini berduaan sama si Zaldi (gue), soalnya si Zaldi (gue) itu GAY!"

MAMPUS gue! Demi apa di siang bolong tanpa dosa gue disebut tuh dosen sebagai kaum penyuka sesama jenis. Langsung aja tuh kelas dia heboh, mahasiswa baru yang dia ajarin langsung pada heboh kaget ternyata menurut dosen mereka gue ini GAY! Haduh.. Habis udah pamor gue sebagai kakak ganteng and cool tahun ini :( (narsis mode : on)

Yaudah lah mau gimana sih. Toh itu dosen udah minta maaf ke gue. Walaupun  itu dosen niatnya becanda tapi tetep aja yang kena ampasnya gue kan?? Susah emang jalan yang gue tempuh ini untuk menjadi artis ibukota nan terkenal, sering banget digosipin macem macem (*ngeles tingkat dewa) :/ Hahahaha..
Kalau lu jadi gue, apa yang bakal ku lakuin??